PIDATO KENEGARAAN PERTAMA

Konsultasi Dakwah Kampus
Spread the love

Islam sebagai agama yang sempurna, bukan hanya mengatur persoalan sholat, tapi juga persoalan kenegaraan. Salah satu adab kepala negara ketika ia terpilih, adalah berpidato di hadapan rakyatnya. Penulis mengutip tiga pidato kenegaraan dari tiga orang kepala negara saat pertama kali terpilih.

Pidato Abu Bakar as-Shiddiq

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu menceritakan pidato Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu setelah dibai’atnya menjadi seorang khalifah pertama umat Islam.

“Aku telah diberikan amanah memimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian. Maka, jika aku berbuat baik tolonglah aku. Jika aku berbuat buruk luruskanlah aku. Kejujuran itu amanah, kedustaan itu khianat. Orang lemah yang ada pada kalian adalah orang kuat bagiku sampai aku membahagiakannya dengan memberikan haknya, Insya Allah. Sedangkan orang kuat yang ada pada kalian adalah lemah sampai aku mengambil hak darinya, Insya Allah.”

“Tidaklah segolongan kaum meninggalkan jihad fisabilillah melainkan Allah akan timpakan kepada mereka kehinaan, dan tidaklah kekejian melekat pada sebuah kaum sedikit pun melainkan Allah akan timpakan musibah buat mereka secara merata.”

“Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya, jika aku membangkang kepada Allah dan RasulNya maka tidak ada ketaatan kalian untukku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian.”

(Imam As Suyuthi, Tarikh Al Khulafa, Hal. 64. Darul Fikr, Beirut. Libanon)

Pidato Umar bin Khattab

“Segala puji dan syukur hanya untuk Allah subehana wataala dan sholawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan semoga Allah merahmati Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia telah melaksanakan amanah yang diembannya. Selalu membimbing ummat. Ia telah meninggalkan ummat tanpa ada yang menggunjingnya. Kita setelahnya, mengemban tugas yang berat. Kita tidak mendapatkan kebaikan dari hasil ijtihad kita saat ini kecuali telah ada pada zaman sebelum kita. Bagaimanakah kemudian kita bergabung dengannya kelak”?

“Kepunyaan Allah-lah semua yang telah diambil. Dan kepunyaan Allah-lah semua yang telah diberikan. Ayyuhan naas, aku hanyalah seseorang dari golongan kalian. Jika aku tidak sungkan untuk menolak perintah Khalifah Rasul, aku tidak akan mau mengurusi urusan kalian.”

“Ya Allah, aku adalah orang yang kaku, maka lunakkanlah. Ya Allah, aku adalah orang yang lemah, maka kuatkanlah.”

“Allah telah memberi ujian kalian semua denganku. Begitu juga sebaliknya. Allah telah memperpanjang umurku. Aku mendengar bahwa orang-orang telah membenci sifat kerasku dan aku takut akan kekakuanku. Mereka mengatakan, “Umar telah bersikap keras kepada kita ketika Rasulullah masih hidup bersama kita. Begitu juga Umar telah bersikap keras kepada kita ketika Abu Bakar menjadi pemimpin. Lalu bagaimana jika kepemimpinan itu berada di tangannya?””

“Maka barangsiapa mengatakan seperti itu adalah benar. Akan tetapi aku selalu mengikuti apa yang Rasulullah berikan. Aku adalah pelayan dan pengawalnya. Rasulullah terkenal mempunyai sifat yang lembut dan pemurah, seperti yang Allah firmankan, “Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang beriman.” Aku diantara pedang yang terikat sampai terlepas, atau bahkan dibiarkan begitu saja. Kemudian setelah itu Abu Bakar memimpin umat muslim, yang tidak pernah diingkari segala perintah dan ajakannya serta kelembutan dan kemuliaannya. Aku adalah pelayannya dan pembantunya. Sifat kerasku selalu diikuti dengan kelembutan sifatnya. Aku diantara pedang yang terikat sampia terlepas, atau bahkan dibiarkan begitu saja.”

“Kemudian sekarang aku yang memimpin kalian. Ketahuilah bahwa sikap kerasku itu telah bertambah. Namun itu hanya bagi orang-orang yang dzalim dan ingkar. Adapun bagi orang-orang yang selalu patuh dengan ajaran agamanya, maka aku akan bersikap lebih lunak daripada yang lainnya. Aku tidak mengharapkan seseorang mendholimi orang lain atau bermusuhan dengan yang lain. Sampai aku menghentikannya dan kembali pada kebenaran. Dengan sifat kerasku tersebut, aku letakkan kakiku diatas muka bumi ini, wahai orang-orang yang pemaaf dan orang-orang yang pemurah.”

“Dan kalian semua ada kesepakatan denganku, maka dengarkanlah. Kewajibanku adalah aku tidak akan memilih orang-orang di antara kalian atau apa yang telah Allah anugerahkan kepada kalian, kecuali adanya pertimbangan yang tepat. Dan aku berkewajiban menambah pendapatan kalian atau rezeki kalian. Jika Allah berkehendak, maka aku naikkan upah kalian. Kewajibanku kepada kalian adalah tidak menyesatkan kalian pada bencana. Jika kalian hilang dalam suatu perintah dan perjalanan, maka aku akan mencarinya. Mengenai harta Allah, aku memposisikan diriku disini seperti anak yatim. Jika aku diberi kekayaan, maka aku akan menjadi orang yang pemurah. Jika aku miskin, aku akan memakan makanan yang baik dan halal. Bertaqwalah kalian semua, wahai hamba Allah.”

“Bantulah aku dengan urusan yang ada pada kalian semua dengan menjalankannya dengan baik. Dan semoga diteguhkan kepadaku untuk selalu memerintahkan kebaikan dan mencegah terjadi kemungkaran dan selalu menasihatkan kebaikan ketika aku memerintah nanti.”

(Dikutip dari buku 10 Shahabat yang Dijanjikan Masuk Surga karya Abdus Sattar Asy-Syaikh)

Pidato Umar bin Abd.Azis

“Jamaah sekalian, sesungguhnya aku telah diuji dengan perkara ini, tanpa dimintai pendapat, tidak pernah ditanya dan tidak pula ada musyawarah dengan kaum muslimin. Aku telah membatalkan baiat untukku, sekarang pilihlah seseorang untuk memimpin kalian.” Orang-orang serentak menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, kami telah memilihmu, kami menerimamu, silahkan pimpin kami dengan kebaikan dan keberkahan.””

“Di saat itulah Umar merasa bahwa dirinya tidak mungkin menghindar dari tanggung jawa khalifah, maka Umar menambahkan kata-katanya untuk menjelaskan kebijakan-kebijakannya dalam menata umat Islam”. (Umar bin Abdul Aziz wa Siyasatuhu fi Radd al-Mazhalim, Hal: 102)

“Amma ba’du, tidak ada lagi nabi setelah nabi kalian, tidak ada kitab selain kitab yang diturunkan kepadanya. Ketahuilah bahwa apa yang Allah halalkan adalah halal sampai hari kiamat. Aku bukanlah seorang hakim, aku hanyalah pelaksana, dan aku bukanlah pelaku bid’ah melainkan aku adalah pengikut sunnah. Tidak ada hak bagi siapapun untuk ditaati dalam kemaksiatan. Ketahuilah! Aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, aku hanyalah seorang laki-laki bagian dari kalian, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala memberiku beban yang lebih berat dibanding kalian.”

“Kaum muslimin, siapa yang mendekat kepadaku, hendaknya dia mendekat dengan lima perkara, jika tidak, maka janganlah mendekat: Pertama, mengadukan hajat orang yang tidak kuasa untuk mengadukannya, kedua, membantuku dalam kebaikan sebatas kemampuannya, ketiga, menunjukkan jalan kebaikan kepadaku sebagaimana aku dituntut untuk meniti jalan tersebut, keempat, tidak melakukan ghibah terhadap rakyat, dan kelima, tidak menyangkalku dalam urusan yang bukan urusannya.”

Aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah memberikan akibat yang baik dalam setiap hal, dan tidak ada kebaikan apabila tidak ada takwa. Beramallah untuk akhirat kalian, karena barangsiapa beramal untuk akhirat, niscaya Allah akan mencukupkan dunianya. Perbaikilah (jaga) rahasia (yang ada pada diri kalian), semoga Allah memperbaiki apa yang terlihat dari (amal perbuatan) kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, bersiaplah dengan baik sebelum kematian itu menghampiri kalian, karena kematian adalah penghancur kenikmatan. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Tuhannya, tidak tentang Nabinya, tidak tentang Kitabnya, akan tetapi umat ini berselisih karena dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan memberikan yang batil kepada seseorang dan tidak akan menghalangi hak seseorang.”

Kemudian Umar meninggikan suaranya agar orang-orang mendengar, “Jamaah sekalian, barangsiapa yang menaati Allah, maka dia wajib ditaati dan barangsiapa mendurhakai Allah, maka tidak wajib taat kepadanya dalam permasalahan tersebut. Taatilah aku selama aku (memerintahkan untuk) menaati Allah, namun jika (perintahku) mendurhakai-Nya, maka kalian tidak boleh taat dalam hal itu…” kemudian Umar turun dari mimbar”.

Begitulah prosesi pengangkatan Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah umat Islam, salah seorang khalifah Daulah Umawiyah. Ia diangkat pada hari Jumat, 11 Shafar 99 H.

(al-Bidayah wa an-Nihayah, 12: 667)

Dari tiga pidato politik tersebut,penulis menyimpulkan intisarinya sebagai berikut:

  1. Tawadhu, karena semuanya punya kapasitas kepemimpinan,tapi semuanya merasa tak pantas menjadi pemipin, merasa bukan yang terbaik.
  2. Menekankan urgensi dan berjanji untuk adil
  3. Berdoa dan minta didoakan dalam menjalankan amanah
  4. Berjanji menyejahterakan rakyat
  5. Menyadari kelemahan diri sehingga minta dibantu menjalankan amanah
  6. Minta ditaati dalam ketaatan dan dingatkan jika bermaksiat.
  7. Berpesan pada rakyat agar bertakwa kepada allah, terutama menjaga sholat

Beginilah islam yang memberikan tuntunan pesoalan individu hingga persoalan kenegaraan. Semoga pemimpin yang terpilih dalam tingkatan apapun, dalam komunitas manapun, dapat bercermin terhdap tiga pidato negarawan yang telah terbukti kesuksesannya tersebut.


Andi Muh. Akhyar

Ditemani hujan,

Ahad,2 November 2018

@Sepanjang Perjalanan Wageningen-Delft

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *