PURANO GA MASSEMPAJANG, NAK?

parenthood journey
Share
dokumentasi oleh Asyraf Abu Bakar

Kalimat ini merupakan kalimat bahasa bugis yang artinya, “Kamu sudah sholat, Nak?” kalimat ini ringkas, tapi bagi penulis, dalam maknanya.

Dalam, karena isinya tentang sholat, amalan yang merupakan salah satu rukun Islam. Amalan yang pertama kali dihisab di akhirat kelak. Amalan yang menjadi pembatas antara Islam dan kekafiran. Amalan yang apabila dikerjakan akan menghindarkan kita dari perbuatan keji dan mungkar. Amalan yang apabila ditinggalkan maka keluar dari Islam, tak sah keislamannya. Zina memang dosa besar, tapi dosa meninggalkan sholat lebih besar dari pada dosa zina.

Dalam, karena diucapkan oleh Pettalo’ kepada saya saat saya masih SD, di masa-masa saya sering melalaikan sholat. Ketika saya main bola sampai adzan magrib, kalimat inilah yang Pettalo’ ucapkan setelah beliau pulang dari sholat magrib di masjid dan melihat saya masih di meja makan menikmati air es karena capek main bola, “Purano ga massempajang, Nak?” Ketika saya pulang sekolah sekitar jam dua siang, kalimat inlah yang beliau ucapkan, “Purano ga masempajang nak?” Ketika saya asik nonton TV di malam hari, kalimat inilah yang kembali beliau ucapkan, “Purano ga massempajang, Nak?”

Dalam, karena kalimat ini merupakan cara beliau mengejawantahkan hadits Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, “Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan kalau sudah berusia sepuluh tahun meninggalkan shalat, maka pukullah ia” (HR. Abu Dawud no. 495).

Adanya rentang tiga tahun dari umur tujuh tahun ke umur sepuluh tahun, mengisyaratkan bahwa orang tua haruslah menyuruh anaknya untuk sholat sebanyak waktu sholat dalam tiga tahun tersebut. Tiga tahun dikali 256 hari dikali lima kali waktu sholat, sama dengan 3840, artinya orang tua selayaknya mengingatkan anaknya untuk sholat ribuan kali. Demikian lah cara Pettalo’mengingatkan saya  untuk sholat, “Purano ga masempajang, Nak?”

“Purano ga masempajang, Nak”, begitu dalam maknanya bagi saya. Kata itulah yang Pettalo’` ulang-ulang terus menerus hingga Alhamdulilalh sekarang saya mendapati diri yang terjaga sholatnya, bahkan berkomitmen menjaga sholat lima waktu di masjid. Semoga Allah mengitiqomahkan saya dan memberikan balasan yang terbaik untuk Pettalo’; surga. Amin.

“Purano ga massempajang, Nak?” Sudah berapa kali kita ucapkan untuk anak-anak kita?

(Tulisan pelepas rindu untuk Pettalo yang hari ini genap berusia 72 tahun yang lahir Senin malam, 11 Desember 1946 di Takkalasi, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Semoga selalu dijaga oleh Allah, dipanjangkan umurnya dan diberkahi, amin)

Oleh Andi Muh. Akhyar, Anak bungsu dari lima bersaudara,pasangan Pettabu dan Pettalo

Dipisahkan jarak ribuan kilometer dari Pettalo`,

Selasa, 11 Desember 2018

Pukul 09.34 CET

@’Pondok Sakinah’ Bernhardstraat 23, Wageningen, Negeri ‘Kincir Angin’ Belanda

 

Note:

Pettalo` adalah sapaan akrab di internal keluarga kami kepada ibu kami tercinta, Dra. Hj, St. Nawar Usman (Pung Nawar)

Pettabu adalah sapaan akrab di internal keluarga kami kepada ayahanda kami tercinta, H. Andi Abu bakar kadir, B.A. (Pung Abu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *