Menanti hadirmu (part 1)

parenthood journey
Share
Subuh hari tanggal 21 September 2018, dua hari setelah kepindahan kami ke apartemen baru yang cocok untuk family, bertepatan dengan hari raya idul adha di Belanda, saya melihat bercak darah berlendir ketika saya buang air kecil. Saya pun setengah kaget. Apakah hari ini? Mengingat hpl saya tinggal empat hari lagi dan besoknya saya dijadwalkan untuk kontrol di klinik bidan.

Saya pun tidak jadi mengikuti sholat ied pagi itu. Tidak lama kemudian saya mulai merasakan kontraksi yang tidak biasanya. Ya Allah, betapa deg-deganya saya saat itu, banyak mendengar betapa sakitnya proses menanti buah hati terlahir ke dunia.
Namun Alhamdulillah saya masih sempat makan pagi juga makan siang, cuci piring dan bersih bersih rumah.

Menjelang jam 12, kontraksinya semakin intens kira kira sekali dalam 10 menit. Saya meminta suami memijit punggung saya sambil menangis. Saya coba untuk tidak terburu buru menelpon bidan. Tunggu sampai kontraksinya 5 menit sekali, kataku.
Jam 2, saya sholat dhuhur setelah akhirnya menelpon bidan untuk datang ke rumah. Saya sholat sambil menahan sakit yang luar biasa, sampai saya sudah tidak bisa sujud dengan sempurna.

Bidan muda bernama Conny dari de Bakermat Verloskunde datang sekitar pukul 3. Pemeriksaan pun dilakukan untuk mengecek pembukaan berapa. Dan Allahhuakbar, rasanya sakit sekali dan ternyata sudah pembukaan 7. “it will happen today, the delivery. We can do it at home.” kata bidannya dengan semangat senyuman, sedangkan saya semakin meringis tak karuan.

Menunggu pembukaan lengkap, saya coba untuk berjalan jalan di dalam rumah sambil terus dipapah suami, setelah capai juga rasanya mandi air hangat sekitar sejam di kamar mandi. Mandi air hangat, berjalan dan atur nafas cukup mengurangi nyeri yang saya rasakan. Sungguh sakitnya sempat buat saya kepikiran agar Allah cabut nyawa saya saat itu saking gak tahannya dengan kontraksi yang semakin kuat.

Saya terus berzikir dalam hati, untuk mengeluarkan suara saya sudah tidak sanggup. Suami, bidan dan suster (kraamzorg) yang baru saja datang juga Lia menjadi saksi perjuangan saya kala itu, meringis menahan sakit, berganti ganti posisi, juga mencengkram tangan kak Akhyar.

“ sampai kapan sakitnya ini?” tanyaku ke bidan. “it might be until six oclock.” padahal waktu itu baru setengah 5. Allahu…

Jam 5 sore saya kembali ke kamar menuju tempat tidur yang sudah dilapisi plastik sedemikan rupa guna persiapan lahiran, bidan memutuskan memecah ketuban. Sakit yang saya rasakan tidak sesakit pertama kali bidan memasukkan tangannya saat mengecek pembukaan, mungkin karena tertutupi rasa kontraksi. Padahal saya sudah bergidik ngeri melihat bidan hendak memasukkan tangannya dengan sebuah plastik berbentuk jarum ke dalam mulut rahim saya. Sejurus kemudian saya merasakan air hangat merembes dan kontraksi semakin menjadi jadi…

Bersambung…


Wageningen 21 Sept 2018. 
Di tulis sambil memangku Zhafira yang genap berusia satu bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *