ADAB SEBELUM BARAT

Living abroad
Share

 

Dokumentasi Pribadi Andi Muh. Akhyar

Tidak konsentrasi saat kuliah, ditegur. Terlambat, silakan tutup pintu dari luar. Makan dan minum saat pelajaran berlangsung, tidak boleh. Main HP atau laptop saat perkuliahan, dilarang. Gunakan pakain yang rapi dan sopan, wajib.  Kehadiran saat kuliah adalah poin penting penentuan nilai akhir. Ini pengalaman kuliah di Indonesia.

Makan dan minum saat kuliah, silakan. Datang terlambat bahkan tak datang sama sekali, tak mengapa. Main HP atau laptop saat dosen menjelaskan, tak ada larangan. Kuliah pakai celana jiens dan baju minim-transparan, tak ada masalah. Ini pengalaman kuliah di Belanda.

Penulis coba merenungkan, mengapa perbedaan tersebut bisa terjadi? Lama merenung hingga penulis tiba pada sebuah titik bahwa kultur pendidikan di Indonesia, walau belum sempurna, banyak dipengaruhi oleh sistem pendidikan Islam sebagai agama mayoritas. Sebaliknya, Belanda sebagai salah satu negara eropa, mewakili sistem pendidikan barat.

Titik paling krusial yang menjadi akar pembedanya adalah adab. Bagi Barat, belajar adalah proses transfer epistimologi ilmu bukan transfer nilai (adab). Namun dalam Islam, ilmu dan adab adalah tak terpisahkan. Belajar, selain proses transfer epistimologi ilmu, juga proses transfer nilai (adab).

Bagi mereka, apabila ilmunya sudah sampai, maka selesai. Terlambat dan tak tak datang pun tak masalah asalkan lulus saat ujian. Dalam sudut pandang Islam, kehadiran itu sangat penting karena tanpa kehadiran, tak mungkin dapat transfer adab. Ilmu mungkin dapat dipelajari di buku, namun adabnya harus langsung pada guru.

Bahkan dalam Islam, andai pun awalnya ilmu belum sampai, tak mengapa, asalkan adabnya sampai. Ini digambarkan dalam majelis imam Ahmad yang dihadiri 5000 orang. Yang mencatat (menerima ilmunya) hanya 500 orang, sedangkan 4500 lainnya datang hanya untuk melihat adabnya. Imam Malik pun berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman (seorang fakih di kota Madinah di masanya), Ibuku berkata, “Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.” Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya imam adz-Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata, “Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak adabnya dari pada ilmunya.

Dalam pendidikan Islam, dikategorikan beradab apabila muridnya datang lebih dulu dari gurunya.  Murid harus menghormati, mengagungkan dan tawadhu kepada gurunya. Berusaha semaksimal mungkin berkhidmat kepadanya. Berkonsentarsi penuh di hadapannya. Menulis penjelasannya. Meminta izin terlebih dahulu sebelum bertanya. Saat bertanya pun, bertanya dengan lembut. Secara umum dan gamblang, dijelaskan oleh ibnu Jama`ah dalam karyanya, Tadzkirah al-sami` wa al-Mutakkalim Fi Adab al-Ilm wa al-Muta`allim.

Mengapa transfer nilai (adab) penting dalam konsep pendididkan islam? Ini erat kaitannya dengan keberkahan ilmu. Ilmu yang berberkah adalah ilmu menghasilkan manfaat untuk dirinya dan orang lain: umat dan bangsanya. Semakin berkah suatu ilmu, maka semakin besar kebermanfaatan yang dihasilkan. Sebagaimana penjelasan syaikh Utsaimin dalam kitabul ilm, bahwa keberkahan adalah bertambahnya nilai manfaat sesuatu.

Di zaman Imam Malik, banyak penulis kitab al-Muwattho, tapi megapa kitab al-Muwattho imam Malik yang terkenal dan masih terus digunakan sampai sekarang? Demikian pula penulis  hadits arbain, bukan hanya imam Nawawi, namun mengapa hadits arbain an-Nawawiyah yang terkenal?  Dijelaskan oleh para ulama bahwa salah satu perbedaannya adalah keberkahan. Itulah mengapa kita dapati banyak ulama yang telah meninggal namun kitab, pandangan, ide, pola pikirnya, masih terus hidup: dipelajari dan diulang-ulang di setiap generasi. Benarlah sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Ahmad).

Transfer nilai (adab) juga berkaitan erat dengan tujuan belajar bagi seorang muslim, yaitu semakin dekat dan takut pada Allah (QS. Fathir:28).  Ilmu yang benar akan menjadikan penuntutnya semakin dekat dan takut kepada Allah yang pada akhirnya mengantarkannya ke surga. Untuk apa tau ilmu, tapi digunakan untuk membunuh manusia? Untuk apa tau ilmu tapi digunakan untuk menyiksa binatang? Untuk apa tau ilmu tapi digunakan menjajah bangsa lain? Untuk apa tau ilmu tapi menjadikannya tidak percaya  Tuhan? Untuk apa tau ilmu, tapi justru hatinya keras, jauh dari ibadah, dan terlalai menuntut ilmu syar`i? Untuk apa tau ilmu tapi tak menghasilkan rasa takut pada Allah?

Saat ini, orang mungkin terpesona dengan kecanggihan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan Barat. Namun sebanyak apapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelajari di sana, tidak akan mungkin mendapatkan pengajaran adab.

Penulis menasehati diri sendiri dan pembaca sekalian, agar dapat merasakan perbedaan atmosfir keilmuan Islam dan barat, berikut mampu memfilter budaya sekularisme, liberalisme, hedonsimenya, mampu membedakan halal dan haram, jika berniat menimba ilmu di Barat, perkuat dulu ngaji adabnya.

 

Penulis: Andi Muh. Akhyar, Pengasuh Majelis Adab Wageningen (MAW) Belanda

Mendekati tengah malam,

Rabu, 5 Desember 2018

Pukul 22.52 CET

@’Pondok Sakinah’ Bernhardstraat 23, Wageningen, Negeri ‘Kincir Angin’ Belanda

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *