Menanti hadirmu (part 2)

parenthood journey
Share

Jam 5 sore saya sudah terbaring lemah di tempat tidur dengan sisa sisa kekuatan yang ada. Pembukaan telah lengkap, saatnya memasuki proses akhir dari persalinan, mengejan. Sebelumnya, saya bilang ke bidan bahwa saya ingin ke rumah sakit saja. “we don’t have time, it is too late!”…kalo begitu beri saya painkiller, melasku. “ no. You are not allowed, it is also too late. I believe you are strong, you will see your daughter soon”… Hiks saya kembali menangis tapi kali ini tanpa air mata. Yang bisa saya lakukan adalah terus berpikir positif dan mengatur nafas dengan baik. 

Bidan Conny menjelaskan bagaimana cara mengejan, tiap kontraksi datang saya diharuskan mengejan sekuat tenaga. Selangkangan di buka lebar lebar, kaki diangkat, dirapatkan ke perut dengan tangan yang menahannya (sulit menjelaskannya dengan kata kata, hehe)… Saat kontraksi datang, kali ini tidak terlalu sakit, tapi saya merasakan nyeri di jalan lahir, ada dorongan yang amat kuat di sana, kata bidan, kepalanya sudah kelihatan! Kasur sudah dipenuhi darah, beberapa kali alasnya di ganti. Tapi si baby girl belum juga keluar. Bidan dan suami terus memberi encouragement dan doa tentunya. Tiap saya mengejan, “push push push” bidan memberi arahan sembari membantu kepala bayi menemui jalan lahirnya dengan kedua tangannya sedangkan bu suster sesekali memberi handuk hangat untuk mengompres jalan lahir tersebut. Alhamdulillah bisa mengurangi nyeri yang saya rasa.

Karena bayi tak kunjung keluar, bidan menyarankan untuk menggunakan birth chair, semacam kursi toilet gitu. Saya kemudian duduk di birth chair yang di letakkan di lantai samping tempat tidur. I thought it was easier, kayak mau buang air besar. Sekitar 5.30 saya mulai ngeden lagi, kak Akhyar di belakang saya terus beristighfar sambil terisak isak, sampe sampe bidannya nanya “are you okay?” ..haha.. Seterharu itu dan terus memohon kepada Allah agar dedek bayinya segera lahir. 

Dan di jam 18.09 saya ngeden sekuat tenaga hingga ada seperti air bercampur darah segar menyemprot keluar diikuti rasa seperti sesuatu yang licin berlendir meluncur yang ternyata adalah putri kecilku, bayi merah dengan berat 2.8 kg…alhamdulillah!


(رَبّ) إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ )

“Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.”

part 1 bisa baca disini!


Radhiyah Hamid

Wageningen, 23 Sept 2018. Ditulis sambil mengASIhi baby Zhafira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *