Hamil dan Kuliah di Luar Negeri

Living abroad
Share

Adalah tahun 2018 penuh kejutan, yang teramat patut untuk disyukuri. 

Pasca menikah November 2017, Allah kemudian amanahkan menjadi seorang calon Ibu. Belum sempat direncanakan sebenarnya mengingat usia pernikahan yang masih baru dan rencana studi S2 saya di Belanda bulan Februari 2018, membuat saya dan suami tidak terlalu terburu buru menginginkan keturunan. Namun alhamdulillah suatu pagi, saat saya merasa punggung saya pegal pegal dan kram perut seperti mau haid, membuat saya iseng beli test pack dan mengeceknya.. Dan..2 garis!

Yess.. Tentu saja, ada perasaan senang becampur khawatir, terlebih saya sudah resmi terdaftar sebagai mahasiswa master di WUR, mulai perkuliahan pada Februari 2018, visa pun sedang proses. 

Sembari mengurus persiapan keberangkatan, saya mulai cari-cari info terutama di blog pribadi orang-orang yang mungkin punya pengalaman seperti saya. Bagaimana pun, kuliah di luar negeri selagi hamil dan insyaaAllah akan lahiran di sana bukan hal yang mudah bukan? Alhamdulillahnya banyak juga saya temui tulisan pengalaman hamil di Belanda, tapi beda beda kasus. Nah, maka dari itu saya berniat buat nulis pengalaman saya ini agar nantinya bisa jadi rujukan atau mungkin motivasi… 

FYI,  kondisi saya sebagai berikut: 
1) Baru nikah November 2017
2) Positif hamil Desember 2017
3) Berangkat ke Belanda 2 Februari 2018
4) Morning sickness pada trimester pertama
5) Kuliah master Biology di Wageningen University, Belanda selama 2 tahun
6) Awardee beasiswa LPDP tanpa family allowance.

A. Persiapan Keberangkatan

Akhir Januari 2018 saya menyempatkan diri untuk menghadiri walimah sahabat saya di Purbalingga dalam keadaan masih mabuk parah. Morning sickness yang saya alami membuat saya mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan, karena saya tidak doyan makan, apa yang saya makan saya muntahkan kembali. Sebelum ke Purbalingga dan akhirnya terbang ke Belanda, saya konsultasi ke dokter kandungan. Saya diberi vitamin dan obat penguat kandungan sembari terus berdoa agar kehamilan saya tidak rewel.

Kala itu saya berangkat ke Belanda bersama sembilan kawan saya, suami hanya mengantar hingga di bandara di Jakarta hingga pada akhirnya dengan izin Allah , beliau menyusul pada bulan Mei 2018. Alhasil saya kudu kuat mengatur segalanya khususnya dalam urusan perkoperan. Karena wanita hamil tidak boleh bawa yang berat-berat, bagasi saya saat itu hanya 27 kg, padahal jatahnya 40 kg. Sempat nyesal juga waktu  itu, sebab baju yang saya bawa hanya sedikit, terpaksa harus beli di Belanda yang lumayan mahal harganya.

B. Memastikan Asuransi

Sebelum berangkat, saya juga menghubungi kenalan yang sudah dulu di Belanda, menanyakan perihal sikap kampus terhadap mahasiswinya yang sedang hamil dan tidak ada masalah dengan itu. Saya hanya disuruh untuk memastikan apakah asuransi saya dalam hal ini (AON student insurance) mencover kehamilan saya atau tidak. AON ternyata hanya mencover kehamilan yang terjadi di Belanda dan kehamilan yang usianya tidak lebih dari 12 minggu, Alhamdulillah, saat saya tiba di Belanda, usia kehamilan saya baru memasuki 10 minggu, yang artinya saya tidak perlu ribet-ribet mengganti asuransi saya. Sebagai informasi, memiliki asuransi di Belanda itu wajib hukumnya dan biaya kehamilan di Belanda mahal sekali guys, kemarin saya hitung hitung dari konsultasi bulanan di bidan, persalinan, dan maternity care hingga printilannya bisa mencapai 4000 euro. InsyaaAllah saya akan cerita di postingan selanjutnya mengenai ini.

C. Menghubungi pihak kampus (Student Dean)

Tidak perlu menyembunyikan kehamilan kita kepada pihak kampus ataupun teman-teman kampus, sebab mereka sangat welcome, bahkan memberikan perhatian khusus kepada kita yang sedang hamil. Pihak kampus yang pertama kali saya beri tau tentang kehamilan saya adalah Student Advisor saya. Beliau sempat kaget lalu menyarankan saya segera menghubungi Student Dean untuk mengatur jikalau saya harus mengambil cuti dan memperpanjang waktu studi saya. Menurut hasil kepo saya, mereka akan memberikan cuti dan keringanan biaya dari international student cost menjadi EU student cost pada saat waktu perpanjangan studi.  Tepatnya saya tidak terlalu tau dengan detail urusan percutian ini, sebab saya memutuskan untuk tidak mengambil cuti, mengingat saya mendapatkan beasiswa hanya 2 tahun dan Alhamdulillah persalinan terjadi pada saat summer break. Sebagai tambahan, kehamilan saya ini termasuk kehamilan yang tidak terlalu kelihatan, perut saya cukup kecil dan tertutup hijab membuat saya tidak terlihat sedang hamil terutama bagi teman-teman internasional ataupun dosen, padahal kata student  advisor saya, saya bisa kok dapat keringanan tidak terlalu kerja berat-berat di lab saat praktikum.

D) Menjalani kuliah saat hamil

Di Wageningen, qadarullah saya mendapat tempat tinggal (student housing model studio) yang jaraknya 15-20 menit bersepeda ke kampus. Cukup ngos-ngosan jika tiap hari bolak balik kampus dengan kondisi hamil, hingga akhirnya saya lebih  memilih menggunakan bus umum dengan konsekuensi tiap hari ada pengeluaran tambahan sebesar 3 euro pulang pergi. Sebenarnya bersepeda di Belanda cukup aman dan dianjurkan bagi wanita hamil, saya pun masih bersepeda sampai sehari sebelum melahirkan. Jalanan di Belanda cukup rata dan tidak terlalu padat kendaraan, insyaaAllah relatif amanlah bahkan bisa membantu lancarnya proses persalinan.

Jurusan saya, Biologi, berdasarkan pengalaman, tidak terlalu sibuk dengan assignmentsnya, sehingga saya bisa memanage waktu cukup baik antara belajar, urusan domestik, dan istirahat selama periode kehamilan. Cuman ya itu, materi kuliah, terlebih examnya susah cuy.. hehe..harus belajar extra, terlebih masih terkendala bahasa dan dinamika belajar orang-orang dutch yang sungguh cepat. Jangan tanya berapa re-exam saya… haha

Pernah merasa stress? Stress bagi wanita hamil akan memberikan pengaruh buruk terhadap janin. Tekanan perkuliahan, homesick, perubahan kondisi tubuh sebenarnya sangat rentan memicu stress, namun Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, dukungan suami tersayang, doa orang tua dan sahabat-sahabat, membuat saya bisa terhindar dari stress. Yess, semuanya diasyikin aja, jangan lupa untuk memberi reward terhadap diri sendiri tentunya, misal sehabis ujian, saya biasanya pergi jalan-jalan ke luar Wageningen, atau jajan makanan yang saya idamkan, sesimple itu insyaaAllah.

Next, InsyaaAllah saya akan posting serba serbi kehamilan di Belanda, proses persalinan (ini sudah saya posting di sini), membagi waktu antara mengurus rumah tangga dan studi, pengaturan finansial, dan suka duka selama tinggal di negeri rantau. Semoga Allah mampukan!


Radhiyah M. Hamid

Wageningen, 1 Desember 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *