Menyambut hadirmu (part 1)

parenthood journey
Share

Oke tulisan ini lanjutan dari ‘Menanti hadirmu’

Jadi setelah Zhafira meluncur, dengan sigap mbak bidannya nangkap. Bidan dan susternya bersorak pelan, Kak Akhyar masih setengah terisak sedangkan saya hanya diam, tidak menangis juga tidak tersenyum, ada perasaan aneh yang becampuk aduk yang menyusup kala itu.

Saya kemudian berpindah ke tempat tidur, saat sudah berbaring kak Akhyar memotong ari-ari, Zhafira di letakkan di dada saya untuk mendapatkan kehangatan (skin to skin) dan inisiasi menyusu dini.

Zhafira kecil menggeliat geliat di atas dada saya, sesekali ia tampak mulai belajar mengisap… Bidan kemudian memberikan suntikan di pangkal paha guna memicu kontraksi agar plasenta di dalam rahim keluar dengan bersih.
Oo ternyata belum sampai di situ prosesnya.

10 menit setelah plasenta keluar, dan bidan serta suster baru yang telah berganti (karena yang satu shiftnya sudah habis) istirahat sejenak, pemeriksaan perinium dilakukan, ternyata lumayan besar juga robekan yang terjadi sebab saat di jalan lahir, kepala Zhafira agak miring jadilah robekan perineum ada di luar dan di dalam (saya juga bingung waktu bidan ngejelasin)

Sebelum di jahit, bidan memberikan anastesi lokal. Dengan Zhafira masih di dada, proses penjahitan berlangsung kurang lebih 10 menit. Enggak sakit sih… Tapi ngeri aja lihatnya dan ternyata sakitnya pasca anastesinya hilang.

Zhafira masih berlumuran darah dan licin, tanpa dibersihkan (bayi baru lahir tidak dimandikan setelah 3 hari di sini), Ia diperiksa suhunya, anggota badan dan gerak refleksnya. Alhamdulillah semuanya normal. Zhafira langsung di kenakan baju dan Ia langsung tertidur karena kecapekan juga. Dan saya baru tau kalo bayi baru lahir memiliki simpanan cadangan makanan sehingga ia gak perlu menyusu selama 24 jam dan lagian ASI saya juga belum keluar.

Setelah bayi tidur, saya lalu dimandikan oleh suster, saya memilih di lap lap aja, dibersihkan darahnya dibandingkan kudu ke kamar mandi buat shower… Rasanya lega banget habis berganti pakaian dan kamar dibersihkan… Saya merasa sangat lapar, Alhamdulillah punya cadangan kurma dan Lia sangat berbaik hati memasakkan bubur…

Jam 8 bidan pulang, suster masih di rumah menjelaskan beberapa hal kepada saya dan pulang sekitar jam 9 malam. Usai pukul 10, tidurlah kami bertiga di kamar untuk kali pertamanya meskipun Zhafira bobok di baby box. Alhamdulillah ia tidak rewel jadinya saya (dan suami) bisa istirahat full, hanya sekali ia menangis karena BAB (untuk pertama kalinya) tapi sayangnya dia tidak pipis dalam waktu 24 jam kemudian…..’bersambung’

Wageningen, 8 Oktober 2018.
Ditulis saat Zhafira tidur dengan nyenyak di bawa sinar matahari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *