PROFESOR DAN TK

Konsultasi Dakwah Kampus
Share

Saya seorang master fisika. InsyaAllah, sedikt banyak, saya paham fisika. Namun soal seni, nihil. Baik itu seni musik dan seni rupa. Saya tidak tau memainkan seruling. Saya tidak tau memainkan piano. Saya tidak tau memainkan gitar. Saya tidak tau menggambar.

Saya yang master fisika ini, ternyata ilmu seni saya masih setingkat Taman Kanak-kanak (TK). Bahkan mungkin banyak anak TK yang lebih pintar menggambar dari pada saya. Ponakan saya yang kelas empat sekolah dasar (SD), lebih pandai memainkan seruling dari pada saya. Terbukti, seorang yang ilmu fisikanya sudah magister, namun ilmu seninya masih TK.

InsyaAllah, suatu hari kelak, saya akan menjadi profesor fisika. Namun saya pun menjamin bahwa ilmu seni saya akan begitu–begitu saja. Selain tak tertarik sedikit pun untuk mempelajari, juga memang tak ada pahala apa-apa tatkala mempelajarinya. Bahkan boleh jadi terjerumus dalam dosa. Jika hari itu tiba, tatkala saya jadi prpfesor fisika, akan ada seorang yang ilmu fisikanya sudah profesor, namun ilmu seninya masih TK.

Jika ada seorang profesor yang ilmu seninya masih TK, maka sangat mungkin ada pula seorang profesor yang ilmu alqurannya masih TK. Dia tidak mampu membendakan huruf-huruf hijaiiyah. Atau sudah mampu bedakan, namun untuk untuk huruf-huruf yang makhrajnya mirip, ia baca datar-datar saja. Sa, sya, sha, za, dza, dzha, tsa, semuanya hanya dibaca dengan satu macam, “sah-sah” saja.

Maka tidak ada kata berhenti dalam belajar agama. Sebagaimana kita begitu keras mengejar ilmu-ilmu dunia, seharusnya sekeras bahkan lebih keras dari itulah usaha kita mengejar ilmu akhirat.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar agama. Mari kita belajar dari Abu Hurairah Radhiallah `anhu yang masuk Islam pad aumur 60 tahun. Meskipun sudah tua, namun ia tidak tekun untuk belajar. Buah dari ketekunannya belajar di masa tua, melahirkan seorang Abu Hurairah yang terkenal sebagai ahli hadits: periwayat hadits terbanyak,5374 hadits.

Tidak ada kata malu untuk belajar. Mari belajar dari para sahabat kaya seperti Abdurrahman bin Auf atau Ustman bin Affan. Kekayaan meraka, tak menghalangi mereka masuk Islam. Kekayaan mereka, tak menghalangi meraka menuntuit ilmu. Mari kita belajar dari sahabat terkenal sekelas Umar bin khatttab. Salah satu dari dua umar, jagoan utama bani Quraisy. Meskpun punya popularitas yang tinggi, ia tidak malu untuk berisalam dan belajar Islam.

Siapapun kita. Apapun profesinya. Sepanjang apapun gelarnya. Setua apapun umurnya, ayo belajar agama!

Oleh Andi Muh. Akhyar, M.Sc. (Dosen FMIPA UMMA, Ketua PP LIDMI 2015-2017)

Di sepertiga malam terakhir,
Senin, 19 febriuari 2018
Pukul 01.43 Wita
@Pondok Mertua Indah (PMI), Kota ‘Serambi Madinah’ Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *