ADAB KEPADA ORANG YANG LEBIH TUA

Konsultasi Dakwah Kampus
Share

Imam Bukhari (194-256) menulis kitab Adab al-Mufrad, Ibnu Sahnun (202-256) menulis Risalah Adab al-Mua`llimin, al-Rummani (w.384 H) menulis adab al-Jadal, al-Mawardi menulis Adab al-Dunya wa al-Din dan adab A-Wazir, al-Khatib al-Baghdadi (w.463 H) menulis tentang al-Faqh wa al-Mutafaqih, Al Gazali menulis kitab Al-Ilm, Fatihah al-Ulum, dalam Ihya Ulum al_Din, al-Sam`ani (506-562) menulis Adab al-Imla` wa al-Istimla`, Nashir al-Din al-Thusi (597-672 H) menulis kitab Adab al-Muta`allimin, al-Zarnuji (penghujug abad ke 6 H) menuis Ta`lim al Muta`allim, dan KH Hasyim Asy’ayari menulis Adab Al-Alim wa al-Muta`allim.

(Ahmad Alim, 2014, Ilmu dan Adab Dalam Islam dalam Filsafat Ilmu perspektif Barat dan Islam, Gema Insani Press).

Banyaknya buku para ulama kaitannya dengan adab menjadi isyarat nyata bahwa bahwa perihal adab adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan kita.  Bahkan KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab tersebut (Jombang:Maktabah Turats Islamiy, 1425H) menuliskan, “Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barang siapa tidak beriman, maka ia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, barang siapa yang tidak ada syariat kepadanya, maka ia tidak beriman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab; maka barang saipa tidak beradab, (pada hakekatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya”.

Salah satu adab yang sangat penting dalam Islam adalah adab kepada orang yang lebih tua. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, “Berkah itu bersama orang-orang tua kalian (HR. Ibnu Hibban). Dalam riwayat lain, “Barang siapa yang tidak menyayangi orang yang lebih muda dan memberikan hak (menghormati) orang yang lebih tua, maka ia bukan golongan kami (HR.Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no.271).

Oleh karena itu, persepsi yang harus kita bangun dalam benak kita, bahwa orang yang lebih tua selalu lebih baik. Karena memiliki pahala, ilmu dan pengalaman yang lebih banyak. Orang yang umurnya 26 tahun pasti lebih baik dari pada orang yang umurnya 25 tahun.  Orang yang umurnya 26 tahun memiliki pahala sholat, puasa, sedekah lebih banyak satu tahun dari pada orang yang umurnya 25 tahun. Orang yang umurya 26 tahun, memiliki ilmu lebih banyak satu tahun dari pada orang yang umurnya 26 tahun. Seorang alumi S2, tentu ilmunya lebih banyak dari pada alumni S1. Orang yang umurnya 26 tahun memiliki pengalaman lebih banyak satu tahun dari pada orang yang umurya 25 tahun. Lalu bagaimana lagi dengan orang yang beda umurya 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun? Tentu perbedaan amal sholeh, ilmu, dan pengalaman jauh lebih banyak lagi.

Kita mengenal Umar Bin Abdul Azis rahimahullah, cucu Umar Bin Khattab Radhiallahu `anhu. yang berhasil menghadirkan kesejahteraan yang luar biasa bagi rakyatnya. Dengan kepemimpinannya yang adil, sederhana, merakyat, tawadhu, meskipun hanya memerintah selama dua tahun, seluruh rakyatnya sejahtera. Tak satu pun orang yang mau menerima zakat, bahkan sebaliknya mereka semua malah membayar zakat. Di zamannya, jangankan manusia, binatang pun ikut menjadi sejahtera. Zakat berupa biji-bijian di hamparkan ke jalan-jalan agar burung-burung dan binatang ternak dapat memakannya. Daging-daging di simpan di hutan agar para binatng dapat memakannya. Inilah zaman yang diketahui, serigala dan kambing pun berteman. Karena makanan serigala pun dijamin oleh Negara. Karena pemerintahannya yang hampir menyerupai keberhasilan pemerintahan para kulafaurrasyidin, maka banyak yang mengatakan beliau adalah khalifah yang ke lima.

Namun demikian gemilannya keberhasilan pemerintahan Umar Bin Abdul Azis, para ulama sepakat bahwa sahabat nabi, khalifah pertama Bani Umayyah, Mu`awiyah Bin Abu Sofyan radhiallahu ‘anhu tetaplah lebih mulia dari pada Umar Bin Abdul Azis. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibrahim bin Maisarah, ia berkata: “Belum pernah aku melihat Umar Bin Abdul Aziz memukul seorang pun, kecuali seseorang yang mencaci Mu’awiyah. Beliau mencambuknya dengan beberapa kali cambukan” (Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, 59/211 dan al Bidayah wan Nihayah, VIII/139).

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Muhammad bin Yahya bin Sa’id, ia berkata: “Abdullah Bin al Mubarak pernah ditanya tentang Mu’awiyah,”Apa pandanganmu tentangnya?” Beliau menjawab,”Apa yang harus kukatakan terhadap lelaki, yang ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ‘Allah mendengar hamba yang memuji-Nya’, Mu’awiyah menyambutnya dari belakang ‘Segala puji bagi-Mu, wahai Rabb kami’.” Lalu ada yang bertanya: “Apa pandanganmu terhadap Mu’awiyah, apakah menurutmu ia lebih utama daripada Umar bin Abdul Aziz?” Beliau berkata, ”Sungguh celaka aku ini. Mu’awiyah yang telah menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sudah tentu lebih utama dan lebih baik daripada Umar bin Abdul Aziz.”(Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, 59/209 dan al Bidayah wan Nihayah, VIII/139)

Al Khatib meriwayatkan dalam tarikhnya, dari Rabbah bin al Jarrah al Maushili, ia berkata: “Saya pernah mendengar seorang lelaki bertanya kepada al Mu’aafi bin Imran: “Wahai, Abu Mas’ud. Bagaimanakah kedudukan Umar bin Abdul Aziz dibandingkan dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan?”” Mendangar perkataan itu, ia marah besar dan berkata: “Sahabat Nabi tidak dapat dibandingkan dengan siapapun. Mu’awiyah adalah sahabat Rasulullah, ipar beliau, penulis beliau, orang kepercayaan beliau dalam menulis wahyu Allah Azza wa Jalla” (Al Khatib al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, I/223 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, 59/208. Al Khallal meriwayatkan pula jalur lain dalam kitab as Sunnah, 664).

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Isa bin Khalifah al Hadzdza’, ia berkata: Suatu ketika al Fadhl bin Anbasah duduk bersamaku di sebuah toko. Lalu ia ditanya: “Manakah yang lebih utama, Umar bin Abdul Aziz ataukah Mu’awiyah?” Diapun menunjukkan keheranannya terhadap pertanyaan itu, lalu berkata: “Subhaanallah, patutkah disamakan orang yang telah melihat Rasulullah dengan orang yang belum pernah melihat beliau?” Ia mengulangi ucapan itu tiga kali.(Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, 59/208)

        Jadi persepsi yang kita bangun adalah orang yang lebih tua itu lebih baik dari pada diri kita karena amalnnya lebih banyak. Dan jangan membangun persepsi bahwa, bukankah juga dosanya lebih banyak? Jika pertanyaan semacam itu terbangun dalam benak kita, ini isyarat bahwa hati kita tegah berpenyakit. Seyogyanya seorang muslim melihat ke atas dalam hal amal sholeh dan tidak menyibukkan diri melihat aib-aib orang lain.

        Jika orang yang lebih tua itu harus dihormati, lalu bagaimana lagi jika orang yang lebih itu adalah kakak kandung kita? Bagaimana lagi jika orang yang lebih tua itu adalah suami kita? bagaimana lagi jika orang yang lebih tua itu adalah orang tua kita?

Penulis : Andi Muh. Akhyar, M.Sc., Pengasuh Majelis Adab Wageningen

Selasa. 7 Februari 2017

Pukul 12.03 Wita

@Rumah Inspiratif, BDP F25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *